Senin, 07 Mei 2012

Tak Selamanya Mendung Itu Kelabu, Epilog


Astri melirik arloji yang melingkar manis di pergelangan tangannya.  Sudah hampir satu jam Riris dan Sal berbicara.  Dia menjemput Sal dan mempersilakannya berbicara sendiri dengan Riris, berdua saja, dalam kamar gadis itu.  Dia sengaja menyibukkan diri dengan bunga-bunga kesayangannya.  Jangan sampai Sal mengira dia menguping pembicaraan mereka.
            Riris duduk di pembaringannya di kamar.  Sepasang matanya memang buta, tidak bisa melihat seperti apa wajah wanita yang katanya adalah ibu kandungnya itu.  Tetapi dia bisa merasakan betapa sangat tidak sehatnya wanita itu. 
            Sejak wanita itu masuk dalam kamarnya, memeluknya erat-erat, Riris hanya diam, sama sekali tidak membalas perhatian yang diberikan wanita itu.  Kalau bukan permintaan Astri, tidak akan dibiarkannya wanita yang telah membuangnya ini masuk dan memeluknya.  Kenapa tidak dilakukannya hal itu dua puluh tahun yang lalu, ketika dia betul-betul masih sangat lemah dan sangat membutuhkan pelukan seorang ibu?
            “Nak, saat itu memang ibumu ini bersalah.  Tetapi sekarang ibumu sudah sadar.  Kamu mau memaafkan dosa ibumu ini?”  Sal membesut hidungnya, untuk kesekian kali.  Semua sudah diceritakannya.  Secara sangat tidak seimbang.  Dia menggambarkan Astri sebagai seorang wanita tingkat atas yang sombong, angkuh dan sangat mementingkan dirinya sendiri.  Dia menempatkan dirinya sebagai korban.  Seorang wanita kalangan bawah yang berhasil meraih cinta seorang pria kaya, yang kemudian terpaksa menanggung penderitaan karena ulah istri pria kaya itu, Astri. 
            Dia sama sekali tidak sadar, semua penjelasannya itu malah membuat Riris semakin benci padanya.  Dua puluh tahun usianya di dunia itu, Riris hanya mengenal Astri sebagai ibunya.  Selama itu Astri telah menunjukkan cinta dan perhatian yang sangat besar padanya.  Sama sekali tidak mudah menghapuskan citra seorang ibu yang baik dan penuh kasih sayang menjadi seorang wanita sok, angkuh dan jahat.  Riris tahu, Mama Astri-nya tidak seperti penggambaran wanita ini, ibu kandungnya.
            “Sudahlah, Bu...”  Riris berusaha keras untuk mengucapkan kata itu.  “Riris sudah memaafkan Ibu.”
            “Jadi...”  Sal memekik kegirangan.  “Kamu mau tinggal bersama Ibu kan?”
            “Tinggal bersama Ibu?”  Riris mendengus kesal.  “Memaafkan tidak berarti Riris bisa menerima Ibu sepenuhnya.  Cobalah mengerti keadaan Riris.  Selama ini Riris tinggal bersama Mama Astri.  Bagi Riris, cuma Mama Astri yang menjadi ibuku.  Tidak ada yang lain.”
            “Riris...kamu tidak mau menerima ibu kandungmu sendiri?”
            “Riris sudah memaafkan kesalahan yang demikian fatal.  Apakah Riris harus melakukan sesuatu yang sangat bertentangan dengan keinginan Riris?  Apakah belum cukup bagi Ibu untuk menerima maaf dari Riris?  Masih kurang apa yang Riris berikan?”
            Sal menatap anaknya dengan pahit.  Dia tahu, tidak mudah, sama sekali tidak mudah mengubah semua yang telah ditunjukkan Astri selama ini.  Jika mau jujur pada diri sendiri, Sal menyadari bahwa Astri memang sangat baik.  Dulu dia memang angkuh, sombong, dan merasa dirinya lebih tinggi dari orang lain.  Tapi kerelaannya membesarkan Riris, menolong keluarganya dari kesulitan ekonomi, semua itu bukan kesombongan dan keangkuhan.  Sal menggelengkan kepalanya kuat-kuat.  Rasa marahnya, putus asa karena penyakitnya, membuat dia membutakan mata batinnya.  Dia merasa, Astri yang membuatnya menderita, bahkan penyakit yang dideritanya saat ini, itu disebabkan Astri.
            Dia menggertakkan giginya.  “Baik, kalau memang itu yang menjadi pilihan Riris.  Terima kasih, karena Riris masih mau mengakui ibumu ini.” Sal berdiri.  Meraih tas tangannya.  Sekilas dia ingin mengecup kening anaknya, tapi wajah Riris yang tampak membeku membuatnya mengurungkan niat itu.  “Selamat tinggal, Riris.”
            Sal tidak berpamitan pada Astri.  Astri baru tahu kalau dia sudah pergi ketika melihat Riris turun dari lantai atas dan menuju ke pianonya.
            “Ibu sudah pulang, Ris?”
            “Sudah.  Untuk apa dia lama-lama di sini?  Berusaha menghasut Riris agar membenci Mama Astri?  Dia hanya menghabiskan waktunya.”  Riris memberi senyum manis pada Astri.  Setelah itu dia duduk dan mulai memainkan pianonya.  “Riris sudah memaafkannya.  Riris juga sudah mengakuinya sebagai ibu.  Itu sudah cukup.   Riris tidak bisa memberikan lebih.”  Riris menjelaskan hasil pertemuannya dengan Sal, sebelum Astri bertanya.  Jemarinya yang sudah menari di atas tuts piano, memberi isyarat pada Astri bahwa gadis itu tidak mau diganggu lagi.  Astri menghela nafas panjang.  Dia sudah mencoba memperdamaikan keduanya.  Kalau Riris tetap menjaga jarak dengan ibu kandungnya, apa yang bisa dilakukan Astri?  Riris sudah dewasa, bahkan hampir menikah.  Tidak mungkin dia dipaksa untuk melakukan sesuatu yang tidak dikehendakinya.
                                                            ***
            Ivonne menatap wajah Jojo dengan sorot memohon.  “Mas Jo mau kan mengantar Ivonne ke sana?  Mas Jo, semua membawa pasangannya.  Semua.  Masa Mas Jo tega membiarkan Ivonne datang sendiri?”
            “Kalau memang kamu masih sendiri...”
            “Ivonne sudah bilang Ivonne akan membawa teman pria Ivonne.”
            “Mas Jo ini kakakmu, bukan teman pria.”
            “Mas Jo...”  Ivonne mulai merajuk.  Bibirnya manyun dengan manis.  Di usianya yang hampir tujuh belas, Ivonne memang masih kolokan.  Papanya, Raam, dan ibunya, Anita, terlalu banyak memanjakan Ivonne.  Terlebih karena dia anak tunggal.  Meskipun Raam menginginkan selusin anak, Anita tetap bersikeras untuk memiliki satu anak saja.  Segala keinginan Ivonne dituruti.  Untungnya anak itu tidak pernah minta sesuatu yang mustahil.
            Jojo menarik tangan Ivonne.  “Kalau kehadiran Mas Jo di pesta itu akan membuat teman-teman kamu berpikir kita ini sepasang kekasih, lebih baik Mas Jo tidak datang.”
            “Kenapa?  Memangnya Mas Jo sudah punya kekasih?”
            “Mas Jo belum menemukan seseorang yang tepat.”
            “Seperti Tante Astri?  Mana mungkin ada orang seperti Tante?”
            “Satu saat akan kutemukan.”
            “Kalau Ivonne?”  Ivonne tersenyum malu-malu.  Jojo mengacaukan poni tebal gadis itu.  Ditatapnya sepasang mata lugu yang menatapnya penuh harap.  Rasanya sulit untuk mengatakan kebenaran.  Tapi mama sudah menasehatinya, lebih baik berterus terang.
            “Ivonne kan cuma punya tempat sebagai adik Mas Jo.”
            “Kata Papa, Ivonne mirip tante Astri?”
            “Wajahnya sih iya.  Tapi sifatnya, sama sekali nggak mirip.”
            “Ivonne bisa belajar...”
            “Dan menyiksa dirimu sendiri?  Membuat dirimu yang sebenarnya terkubur hidup-hidup?  Tidak Ivonne Sayang.  Itu tidak boleh terjadi.  Aku akan sangat berdosa.jika menghilangkan seorang Ivonne nan manja dan ceria ini.  Mama telah menempuh banyak kesukaran, itu yang membentuk sifatnya sekarang ini.  Tapi Mas Jo yakin, satu saat akan ada seseorang yang keluhuran budinya tampak dari sorot matanya.  Saat itu, mungkin Mas Jo akan jatuh cinta.”
            “Huuh...tunggu saja bidadari itu datang.  Pokoknya Ivonne minta antar.  Nanti Ivonne tulis pakai karton, tempel di punggung Mas Jo. Bunyi tulisannya, ‘sorry, saya bukan pacarnya Ivonne’.” 
            Jojo tergelak.  Dia selalu tak berdaya kalau Ivonne mengeluarkan jurus pamungkasnya itu.  Konyol.  “Okey.  Tapi kamu harus meralat pernyataanmu bahwa kamu akan datang dengan teman priamu.  Bilang saja sejujurnya.  Mas Jo ini kakakmu.”
            “Kalau teman-teman Ivonne naksir Mas?”
            “Mau diantar nggak?” 
            “Iyayaya...”  Ivonne cemberut.  Tapi tak urung dia tersenyum manis pada Jojo.
            Astri melihat adegan keduanya dari teras atas.  Keduanya sama sekali tidak sadar kalau Astri ada di sana sejak tadi.  Memperhatikan mereka dengan senyum bahagia, bercampur rasa geli.  Tubuh Astri memang terhalang tanaman-tanaman hias yang diletakkan di teras atas itu.  Saat itulah tangannya tak sengaja menyenggol ujung besi tempat dia meletakkan pot bunga.  Astri sudah berniat ingin membungkus ujung runcing itu dengan kain atau karet.  Tapi kesibukan selalu membuatnya lupa.  Sekarang, ujung besi itu melukai tangannya.  Membentuk parut memanjang yang berdarah di lengan kanannya.  Dia memekik kecil, membuat Jojo dan Ivonne serentak menengadah ke atas.  Melihat Astri ada di sana, mengeryit kesakitan, Ivonne merasa pipinya panas, dia merasa sangat malu.  Sebaliknya, Jojo malah lari meninggalkan Ivonne dan segera naik ke atas.
            “Kenapa Ma?”
            “Nggak apa-apa kok, Jo.  Cuma tergores sedikit, kena ujung besi pot itu.  Berkali-kali Mama ingin menutup ujung runcing itu dengan kain.  Tapi selalu lupa.”
            “Darahnya banyak lho, Ma.”  Jojo meraih tangan Astri.  Luka itu memang tidak terlalu dalam, tapi cukup panjang.  Darah mulai membentuk aliran kecil pada luka itu.  Melihat kekhawatiran anaknya, Astri tertawa. 
            “Ini biasa, Jo.  Sudahlah, biar Mama beri antiseptic.”
            “Iya, nanti bisa infeksi lho...”  Jojo betul-betul khawatir.  Dia tidak pernah melihat Astri berdarah.  Karena itu dia panik melihat luka yang memanjang itu.  Kalau saja dia tahu luka jahitan bekas operasi caesar di perut Astri baru sembuh setelah hampir tiga minggu...
***
            Gerimis bulan Desember turun malu-malu.  Sore yang bersaput mendung kelabu.  Cuaca seolah tanah liat yang berada di tangan pembuat periuk.  Begitu mudah berubah bentuk.  Pukul empat sore tadi, cuaca masih sangat cerah.  Pukul setengah enam, kegelapan tiba-tiba menyelubungi langit.  Sekarang, gerimis turun bagaikan jutaan jarum halus menerpa bumi.  Satu menit lagi, mungkin saja gerimis itu berubah menjadi hujan deras yang disertai kilat dan petir.
            Sal meletakkan tubuhnya ke sofa ruang tengah rumah Astri.  Dipandangnya ruang tengah yang asri itu dengan sorot sinis.  Dia tak bisa menghapus bayangan kemewahan yang sempat dinikmatinya setelah menikah dengan Agung.  Dia sama sekali tidak merasa berterima kasih atas semua yang dilakukan Astri untuknya.
            Sebagai istri yang dinikahi secara siri, tanpa sehelai surat nikah resmi, mestinya Sal sama sekali tidak memiliki hak apapun.  Astri telah berbaik hati membuka deposito atas namanya, dari sebagian harta peninggalan Agung.  Deposito itu telah meningkat dengan sangat besar.  Jumlahnya hampir sepuluh kali jumlah awal yang ditanamkan Astri.  Astri telah memberikan sertifikat itu pada Sal, sehari setelah dia tahu Sal pulang.  Perhiasan-perhiasan yang disimpan Agung di safe deposit box bank langganannya, diberikannya separuh untuk Sal.  Nilainya, bisa ditukar dengan sebuah Mercedez  Benz.  Jelas jumlah yang tidak kecil.  Tetapi toh, semua itu tidak ada artinya di mata Sal.  Kebencian telah menutup mata hatinya rapat-rapat.  Yang dilihatnya hanyalah kejelekan dan kejahatan Astri.
            Sal ada di ruangan ini satu bulan setelah penolakan Riris untuk ikut bersamanya.  Dia kembali dengan dendam yang puncaknya mencapai langit-langit hatinya.  Dendam yang menggelegak bagaikan kawah candradimuka.  Bagaimanapun, dia harus menyakiti Astri. 
            Berbeda dengan Sal yang menatap dengan sorot penuh kedengkian, Astri yang duduk di hadapan Sal, tersenyum lembut.  Usianya sudah tidak muda, tahun ini dia akan meniup lilin ulang tahunnya yang ke lima puluh dua.  Gurat-gurat usia tampak menghiasi wajahnya.  Meski masih tetap halus mulus, toh usia telah mengukir garis-garis halus itu untuk membuat wajahnya terlihat lebih matang daripada tahun-tahun sebelumnya.
            “Riris belum pulang.  Tadi dia dan Jojo pergi belanja.  Adolf akan pulang minggu depan, jadi Riris merasa perlu untuk mempercantik dirinya.”
            “Dia sudah cantik.  Tanpa polesan apapun anakku sudah cantik.”
            “Tentu saja.”  Astri menjawab lembut.  “Tunggulah sebentar.  Dia akan segera datang.”
            “Aku akan menunggu.  Aku kangen padanya.”  Suara Sal sama sekali tidak bisa menyembunyikan rasa marahnya.  Astri hanya tersenyum.  Dia tetap tersenyum ketika Sal mengeluarkan sebatang rokok, menyulutnya dan mulai menghisap batang tembakau itu.  “Ada beberapa hal yang harus kita bicarakan.  Aku juga punya hak atas perusahaan yang sekarang kamu pimpin.  Aku istri Agung.  Aku melahirkan anaknya.  Aku tahu, aku memiliki dua puluh persen saham.  Aku ingin tahu, apakah aku bisa menjual perusahaan itu kalau aku mau.”
            Astri mulai kehilangan kesabarannya.  “Apa maksudmu dengan menjual?”
            “Aku memang lulusan SMP, tapi aku tidak bodoh.  Di HongKong aku banyak bergaul dengan orang-orang bisnis.  Aku memiliki dua puluh persen saham.  Riris dua puluh lima persen dan kamu serta Jojo memiliki persentase yang seimbang dengan kami.  Jika aku memberikan saham yang kumiliki pada Riris dan aku berhasil membujuk dia untuk menjual perusahaan ini, maka...”
            “Dengar Sal, meskipun kamu cukup pintar dalam hal saham, Riris tidak akan setuju menjual perusahaan ini.  Perusahaan ini jatuh bangun bersama kami.”
            “Maksudmu bersamamu.”  Koreksi Sal dengan nada sinis.  “Kalau Riris tidak mau, aku bisa menjualnya pada investor lain.  Investor yang piawai memainkan saham.  Investor itu satu saat akan mencaplok bagian kalian seperti seekor alligator mencaplok mangsanya.”
            Astri berdiri dengan marah.  “Kamu membicarakan sesuatu yang sebenarnya bukan hakmu sama sekali.”
            Sal juga berdiri.  Melempar rokoknya ke lantai dan menginjak dengan marah hingga puntung rokok yang masih panjang itu hancur berantakan.  Matanya membara menatap Astri.  “Dengar, aku tidak bisa memaafkan semua kesalahan yang kamu lakukan.  Kalau bukan karena ulahmu, maka Mas Agung masih tetap hidup hingga saat ini, aku tidak akan seperti ini.”
            “Mas Agung meninggal karena kamu meninggalkannya tanpa pamit, Sal.  Dia mulai menyadari cintanya untukmu ketika kamu malah meninggalkan dia.”
            “Tidak.  Dia adalah suamimu.  Dia merasa aman di bawah ketiakmu.  Dia selalu ingin melindungimu.  Apa saja dia lakukan agar kamu tidak merasa sakit.  Aku berdiri di depannya.  Melayani dan melakukan apa saja maunya, tapi dia tidak pernah merasa senang, dia selalu ingat kamu.  Padahal, apa hebatnya kamu, seorang wanita angkuh dan sombong.”
            “Cukup Sal.”  Suara Astri dingin.  Kemarahan telah membekukan kehangatan hatinya.  Dengan suara amat tenang dia meminta Sal meninggalkan rumah itu.  Bukannya menuruti kehendak Astri, Sal malah mendekat.  Saat itulah ada suara keras yang membelah langit, bersamaan dengan padamnya aliran listrik. 
            Dalam kegelapan yang tiba-tiba itu, Sal bertindak sangat cepat.  Dengan pisau kecil yang telah disiapkannya, dia menggores tangan Astri.  Ketika Astri memekik, dia telah menggigit ujung jarinya sendiri.  Setetes darah keluar, Sal mengoleskan darah itu pada luka yang terasa kasar di tangan Astri.  Dia menyeringai puas.
            Guntur menggelegar di luar sana.  Hujan deras turun dengan tiba-tiba.  Astri berseru marah, membentak Sal dan mengusirnya, dia menahan sakit karena luka yang terasa menggigit tangannya.  Ketika Pak Said, tukang kebun rumah itu datang dengan lampu darurat di tangannya, Astri tidak melihat Sal lagi.  Dia memekik ngeri melihat luka yang berdarah hebat pada lengan kirinya.  Luka itu sama sekali lain dengan luka parut bekas goresan ujung besi penyangga pot pada tangan kanannya.  Meskipun hampir sama panjang, tapi luka itu lebih dalam.  Astri meraba bekas luka goresan itu, basah.  Ada tanda tanya besar dalam kepalanya ketika diciumnya cairan yang menutup bekas luka yang sudah lama mengering itu.  Bau anyir darah.  Cepat-cepat dia mengoleskan ujung jarinya yang basah oleh darah pada rok yang dikenakannya.  Tentu darah dari luka yang dibuat Sal waktu gelap tadi, pikirnya.
            “Apa maunya orang itu.  Kenapa dia membawa pisau ke rumah ini.  Kenapa dia melukai tanganku?”  Ceracau Astri gugup.  Saat itu listrik kembali mengalir.  Ruangan yang tadi gelap, terang benderang.  Tapi Sal tidak ada dalam ruangan itu.  Dia sudah pergi, lagi-lagi, tanpa pamit.
                                                            ***
            Telepon di ruang kerja Astri berdering.  Dia mengangkat dengan mata masih terpaku pada layar monitor.  “Ya, ada apa Windy?”
            “Ibu,  ada telepon dari rumah sakit Bakti Husada Indonesia.  Ingin bicara langsung dengan Ibu.”
            “Sambungkan.”  Astri mengeryitkan dahinya.  Rumah sakit?  Seingatnya tidak ada teman atau kerabatnya yang sedang sakit.  “Hallo, ya saya sendiri. Apa?”
            Wajah Astri memucat.  Handel telepon merosot dari pegangannya.  Tulisan pada layor monitor tiba-tiba menjadi barisan semut yang memusingkan kepalanya.  Suara yang mengaku milik seorang dokter dari bagian penyakit menular rumah sakit itu terngiang-ngiang di kepalanya. 
            “Sal... ya ampun...”
                                                            ***
            Ruang isolasi itu merupakan sebuah ruang kaca yang betul-betul terlindung dari sekitarnya.  Ada satu tempat tidur yang terletak di dalam ruangan tiga kali empat meter itu.  Bau obat yang menyengat hidung, bercampur dengan aroma pembersih lantai suci hama.  Membuat aroma rumah sakit ini betul-betul steril.
            Astri merasa bulu kuduknya meremang ketika melihat sosok yang terbaring di tempat tidur ruang isolasi itu.  Begitu kurus, bagaikan tulang berbalut kulit.  Selang-selang infus menancap pada pergelangan tangan kiri kanannya.  Mulut yang setengah terbuka itu mengeluarkan suara yang mirip dengkuran.
            “Maaf Bu, kami harus memastikan Ibu tidak memiliki luka terbuka.  Untuk amannya, gunakan saja sarung tangan ini.  Jangan terlalu dekat dengan pasien.  Ibu mengerti apa akibatnya.”  Jelas seorang perawat yang berseragam putih bersih.  Bagaikan orang tolol,  Astri hanya mengangguk.
            Ketika tiba di tepi pembaringan, Astri tak kuasa menahan air matanya.  Sosok yang tinggal tulang berbalut kulit, dan menyebarkan bau busuk yang bercampur bau obat-obat sucihama, membuat perutnya terasa mual.  Seraut wajah amat kurus dengan mata yang menonjol keluar, menatapnya dengan sorot hampa. 
            “Kondisi Ibu Salimah sudah sangat parah, Bu.  Dia datang ke rumah sakit ini dalam kondisi yang sudah tidak memungkinkan tindakan pertolongan.  Anda tahu, AIDS merupakan penyakit yang masih belum terkalahkan oleh dunia kedokteran.  Beberapa obat memang bisa meringankan gejalanya.  Tapi tidak sepenuhnya menyembuhkan.  Sebenarnya, ketika gejala awal seperti pembengkakan kelenjar getah bening itu tampak, pasien harus segera menghubungi dokter.  Ibu Sal ini...”  Dokter Lusi, yang mendampingi Astri masuk ke ruang isolasi itu memberi sedikit penjelasan.
            “Apakah dia tidak bisa disembuhkan?”
            “Yang tahu hanya Tuhan, Bu.  Tapi melihat keadaannya...”  Dokter Lusi menggeleng lemah.  “Karena daya tahan tubuhnya sama sekali tidak bekerja, maka penyakit biasa yang pada orang lain tidak menyebabkan sesuatu yang fatal, pada penderita AIDS akan menjadi sesuatu yang amat fatal.  Batuk-batuk yang dideritanya selama ini, itu hanya infeksi biasa pada orang sehat.  Tapi karena daya tahan tubuhnya tidak bekerja, batuk-batuk itu menjadi penyakit mematikan.  Lalu diarenya...”
            “Kenapa setelah separah ini baru kami diberitahu, Dok?”
            “Ibu Salimah ini yang melarang.  Dia mengaku seorang diri di dunia ini.  Tidak punya keluarga sama sekali.  Tapi setelah kondisinya memburuk, dan pihak rumah sakit terpaksa menghubungi pihak bank yang ditunjuk oleh Ibu Sal ketika mulai masuk sebagai pasien, kami baru tahu kalau dia masih memiliki keluarga.”
            “Sudah berapa lama virus ini ada dalam tubuhnya?”
            “Sekitar dua tahun.  Memang, ada beberapa orang yang mengidap HIV untuk waktu yang lama tanpa ada gejala.  Seperti orang sehat saja.  Walaupun begitu, ada ciri khusus yang harus dicermati, berat badan yang menurun terus tanpa sebab pasti, diare yang terus-menerus, dan keringat berlebih pada malam hari.  Ketika masuk ke sini, Ibu Salimah sudah seperti tulang berbalut kulit, meskipun masih lebih gemuk daripada sekarang ini.”
            “Kami pikir itu karena psikotropika...”
            “Ya, itu tidak salah sepenuhnya...”
            “Tapi apakah dia tahu virus itu ada dalam tubuhnya?”
            “Tentu saja.  Dia memberikan hasil test  AIDS yang dikeluarkan sebuah rumah sakit HongKong.  Dia juga mengaku sudah menjalani seks bebas sejak dua puluh tahun yang lalu.”
            Astri merasa aliran darahnya seolah berhenti.  Luka itu...
                                                            ***
            Selama Sal menanti sang malaikat maut menjemputnya, hanya Astri yang setia menjenguk dan mendampinginya.  Dia selalu datang pagi sebelum berangkat ke kantor, dan sore sepulang dari kantor.  Kadang di saat makan siang dia menyempatkan diri untuk menjenguk Sal. 
            Dengan penuh kasih dia berdoa untuk Sal.  Meskipun dengan masker pelindung, tangan dibungkus sarung tangan, dia tetap tidak kehilangan kehangatan yang ingin ditunjukkannya pada Sal.
            Sesekali Sal mengenalinya, tetapi lebih banyak tidak.  Dia hanya menatap kosong dan hampa.  Beberapa kali Astri menemukan setitik air mata di ujung mata Sal.  Tetapi tidak pernah lebih dari itu.  Sal sudah kehilangan emosi yang dimilikinya selama ini.  Dendam dan amarahnya pada Astri menguap entah kemana.
            Riris , Jojo dan keluarga Sal, semua sudah tahu penyakit yang diderita Sal.  Tetapi yang mau menjenguknya ke ruang isolasi, hanyalah Jojo dan Mak Jah, ibunya.  Riris tidak mau, karena memang dia tidak akan bisa melihat keadaan ibunya.  Mengharapkan mendengar suara Sal, itu tidak mungkin lagi.
            Astri yang paling sering mendampingi Sal.  Bahkan saat-saat akhir kehidupannya, Astri yang ada di sisi Sal.   Dengan tangan Sal dalam genggamannya, dan doa yang dinaikkannya sepenuh hati, Astri melepas kepergian Sal.  Kepergian seorang wanita yang telah merusak sebagian hidupnya.  Tetapi karena Sal juga dia punya semua ini.  Keluarga yang mencintainya, anak-anak yang setengah memujanya, dan tentu saja, kekayaan batin.
            Kesibukan merawat Sal sempat membuatnya mengabaikan test HIV yang dilakukannya.  Astri tahu Sal mencoba melukainya untuk menularkan HIV yang ada dalam darahnya.  Tidak dikatakannya hal itu pada siapapun.  Dia tidak mau Sal yang telah terbaring lemah tanpa daya, masih harus menanggung amarah orang-orang yang merasa muak dengan usahanya menyakiti Astri.  Maka, dia melakukan test itu dengan diam-diam.  Dalam hatinya, Astri hampir yakin bahwa Tuhan pasti tidak akan membiarkan virus jahanam itu menyusup dalam tubuhnya. 
            Dua kali test yang dilakukan dalam jangka waktu tertentu, keduanya negatif.  Sal tidak berhasil melaksanakan misinya yang terakhir. 
            Setelah agak lama Sal meninggal, Astri merenungkan kembali sore berselimut awan tebal itu.  Saat aliran listrik mendadak padam dan Sal melukainya dengan pisau.  Dia bisa mendengar gelegar kilat itu, dia bisa merasakan bau anyir darah pada hidungnya.  Saat itu dia sadar, Sal telah salah melakukan proses penularan itu.
            Astri menaikkan lengan bajunya ke atas siku, mengamati dua luka memanjang yang ada di kedua belah tangannya.  Luka di tangan kiri, adalah luka lama, karena tergores ujung besi penyangga pot bunga.  Luka di tangan kanan, adalah luka yang dibuat Sal.  Saat itu tiba-tiba saja lampu padam.  Entah karena aliran listrik memang padam atau karena dipadamkan oleh Sal, Astri tak tahu pasti.  Tapi yang jelas, Sal telah mencoba melukainya dan menularkan virus mematikan itu pada luka itu.  Sungguh suatu kebetulan dua minggu sebelumnya dia terluka karena goresan ujung besi penyangga pot .  Dalam kegelapan, Sal tak bisa membedakan kedua luka itu.  Yang terasa olehnya hanyalah parut luka.  Dia telah mencoba memasukkan HIV itu lewat bekas luka yang telah sembuh, hanya meninggalkan parut memanjang pada lengan kirinya.  Kalau saja hal itu dilakukannya luka yang baru dibuatnya, mungkin...  Astri tidak mau membayangkan hal itu lagi.
                                                            ***
            Riris berputar sekali dengan gaun pengantin yang melekat indah di tubuh rampingnya.  Gaun putih bersih dengan hiasan gemerlap itu membuatnya seperti seorang ratu negeri dongeng.  Rambutnya yang hitam legam disanggul ke atas dan dihiasi mahkota bertatahkan permata.  Lima menit lagi dia akan masuk dalam mobil pengantin yang akan membawanya ke gereja, tempat pemberkatan pernikahan diberikan.
            “Cantik nggak sih?”  Rajuknya sekali lagi.
            Astri tertawa kecil.  “Tentu saja... kamu sangat cantik sekali, Sayang.”
            “Mama... “  Riris menunduk dan mengecup kening Astri.  “Kalau bukan karena Mama, mungkin saat seindah ini tidak akan pernah hadir dalam kehidupan seorang gadis buta seperti Riris.”
            “Berhentilah menyebut dirimu seperti itu, Riris.  Paling lama empat puluh menit lagi kamu akan menyandang predikat Nyonya Adolf Parinussa.”  Tegur Astri tegas.  “Kamu sudah berjanji.  Mau ingkar ya?”
            “Nggak lah yaooo....”
            Setelah satu tahun berpacaran, dua tahun tiga bulan, bertunangan, akhirnya Marissa menikah juga dengan Adolf.  Semua orang turut bahagia.  Termasuk Jojo yang sampai saat adiknya resmi menjadi Nyonya Adolf, belum juga punya seorang calon istri.
            “Jo, kapan nih nyusul Riris.  Nanti Riris sudah punya cucu, kamu baru menimang anak pertama.”  Ledek beberapa tamu yang datang.
            “Tenang saja, hari masih terlalu siang.”  Jawab Jojo tersenyum.
            “Aku dengar kamu cari yang seperti ibumu ya?  Wah, itu sih namanya oeidipus complex.  Kelainan tahu!”
            “Rasanya standar yang kamu tetapkan terlalu tinggi, Jo.  Mana mungkin ada seorang wanita yang seperti ibumu?  Dia terlalu hebat, iya kan?”
            “Nothing compares to her.”
            Jojo menatap ibunya yang tengah menyalami tamu-tamu pada pesta pernikahan adiknya itu.  Begitu cantik, begitu baik.  Mungkin mereka semua benar, ibunya tiada bandingnya.
            “Bang Jojo...”  Sebuah suara merdu menyapa indra pendengarannya.  Dia menatap si pemilik suara, dan terpana dalam kekaguman.
            Ivonne tampil memikat dengan gaun malam berwarna putih gemerlap.  Rambutnya disanggul dan dihiasi mutiara putih.  Seuntai kalung mutiara melingkar di leher jenjangnya.  Dua tahun dia tidak bertemu dengan Ivonne, sejak anak kecil itu melanjutkan kuliahnya di California.  Sekarang, Ivonne telah jauh berubah.
            “Kenapa?”  Bola mata Ivonne membulat ketika mendapati tatapan Jojo yang berlumur rasa kagum dan heran.
            “Ivonne...”  Jojo tak sanggup mengeluarkan  sepatah kata saja.  Ketika tatapan matanya bertemu dengan sorot mata Ivonne yang penuh kedewasaan, dia tahu, dia sudah menemukan seorang calon istri.  Debar-debar cinta yang dulu ditepisnya jauh karena sifat manja Ivonne, kini menyeruak kembali. 
            “Hei... jangan salah memanggil Ivonne ini Mama Astri...  Ivonne bukan mama Astri lho!”  Ivonne tersenyum manis.  “Tapi Ivonne mau belajar banyak pada Tante Astri.  Everything can be learned, betul kan?”
            Jojo ingin mengangkat Ivonne tinggi-tinggi dan memperkenalkannya sebagai calon mempelainya.  Saat ini juga, di depan sekian banyak tamu.  Tapi dia sangat sadar, masih banyak waktu yang tersedia baginya.  Dia menatap Ivonne, meraih jemari gadis itu dalam genggamannya.
            “Terimakasih, Iv.” 
            Astri masih di sana, sibuk dengan tamu-tamu yang menyatakan kebahagiaan mereka.  Dengan ekor matanya dia tahu tangan Jojo dan Ivonne saling menggenggam, seperti dua hati mereka yang telah bertaut.  Astri menyadari bahwa anak lelakinya yang gagah telah menemukan tambatan hatinya.  Dia merasa sangat lega.  Kebahagiaan begitu menenggelamkannya, sampai dia ingin tertawa keras dan menyanyi keras-keras.  Memuji Tuhan yang telah mengaruniakan segala berkah ini padanya.
            Sesungguhnya, bukankah jalan hidup manusia terbuka di hadapan Tuhan?  Mereka yang berhati lurus dan baik, mana mungkin menuai petaka yang tidak pernah disemaikannya?  Kalau mengatur seisi alam semesta yang agung ini saja DIA sanggup, apa sulitnya mengatur kehidupan seorang anak manusia?
            Langit cerah bulan Juni berhiaskan ribuan bintang yang gemerlap.  Masing-masing dengan kilaunya yang cemerlang.  Setiap anak manusia punya kehidupan sendiri.  Tidak pernah ada satu kehidupan yang sama persis dengan kehidupan lainnya.  Tetapi satu hal yang pasti, tidak ada satupun terjadi pada hidup seseorang, jika Tuhan tidak menghendakinya.  Mungkin terjal dan berduri jalan yang harus ditempuh, tetapi kalau akhir yang menanti adalah kebahagian, apalah artinya batu karang terjal dan duri-duri tajam sekalipun?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar