Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Juli 2020

KAMILLA LIMA

Tetapi semua tidak akan pernah sama seperti sebelumnya.  Jika dulu dia adalah seorang kakak panutan dan seorang anak kebanggaan, maka sekarang dia adalah bukti ketidakberdayaan seorang insan karena cinta.  Terlebih ketika Galih dan keluarganya menolak untuk meminang dan menikahi Kamila.
"Siapa bisa memastikan bahwa bayi itu benar-benar adalah anak Galih?"  Suara sinis itu dilontarkan ayah Galih ketika Kamila dan Papa datang ke rumah Galih.  Kamila menggenggam tangan Papa kuat-kuat, menatap wajah lelaki itu dari samping, rahang Papa mengeras dan bibirnya membentuk segaris tipis yang tajam menggurat raut wajahnya yang menegang.
"Baiklah jika begitu...kami pamit dulu, terima kasih."
Kamila merasa hatinya hancur lebur, tetapi dia tahu, papa lebih sakit lagi.  Karena itu sepanjang perjalanan dengan motor itu, dia hanya diam dan memeluk pinggang papa erat-erat.

"Mila harus pergi, dia tidak bisa melahirkan dan membesarkan anaknya di sini tanpa seorang lelaki yang mengakui anaknya."  Cetus Papa datar ketika mereka sudah sampai di rumah.  "Dengar Kamila, kamu sudah berbuat kesalahan, tetapi jangan pernah kamu tambah kesalahan itu dengan kembali menerima lelaki pengecut seperti Galih!  Kamu harus kuat, biarpun kamu perempuan kamu harus kuat!"
"Iya Pa..."  Kamila ingin bertanya, kemana dia harus pergi sekarang dengan perutnya yang semakin membuncit. Tetapi lidahnya kelu. Karena dia tahu pasti, papa dan mama juga tidak tahu kemana harus menyembunyikan anak sulungnya yang sudah ternoda ini.


Rabu, 03 Juli 2013

KAMILLA EMPAT : PULANG!!!

Hampir seminggu Mila hidup di jalanan.  Di pagi buta dia menenggelamkan wajahnya di balik topi bercaping lebar dan mengikuti langkah-langkah Pakde Marno mengais tempat sampah di tiap rumah dan toko, mencari sesuatu yang masih bisa dikumpulkan dan dijual ke pengepul barang bekas langganan Pakde Marno.  Ketika fajar menyingsing, dia cepat-cepat antri di kamar mandi umum di terminal dekat tempat Pakde Marno biasa tidur di malam hari.  Sesudah itu menyantap nasi bungkus dengan lauk seadanya.  Yang penting kenyang, seperti kata Pakde Marno dan Bude Tarmi.  Di siang hari dia duduk di alun-alun kota di bawah keteduhan pohon beringin sembari memandang lalu lalang orang lewat. 

Kamis, 08 November 2012

Kamilla Satoe


Semburat merah keemasan menyemarak di langit, awan-awan tampak gemerlap bak permaisuri yang mempersiapkan kedatangan junjungannya. Angin sepoi membisikkan hawa dingin mencumbu pucuk-pucuk pinus yang mengangguk seolah enggan menanggapi.
Kamilla merapatkan kedua tangannya menutupi dada, mencoba mengusir hawa dingin yang mencoba menusuknya pelahan.  Sepasang matanya yang berwarna coklat bening berkaca-kaca.  Bening telaga kaca itu akhirnya luruh menjadi sebutir permata yang menggantung di pelupuk matanya.  Kasar Kamilla mengusapnya.
“Ya sudah kalo itu mau Mas, aku gag bisa maksa?”  Sergahnya dengan suara sengau.  Sekuat tenaga ditahannya air mata yang sudah mendesak ingin keluar.  Sembari menengadah dia tertawa kecil.  “Aku tahu akhirnya akan begini juga….”